Senin, 24 Januari 2011

Tumor Cerebri

LAPORAN PENDAHULUAN
Asuhan Keperawatan pada Penderita dengan Tumor Cerebri

1. Konsep dasar medikal
A. Definisi
Tumor cerebral atau tumor otak adalah pertumbuhan abnormal / reproduksi tak terkontrol sel – sel yang terdapat pada otak. (www.abta.com)
Tumor otak primer adalah tumor yang awalnya bermula pada jaringan otak, tumor ini dikategorikan sesuai dengan jenis sel otak yang pertama kali diserang. (www.medicinenet.com)
Tumor otak primer yang paling sering dijumpai adalah jenis Glioma yang menyerang sel glial, jenis ini memiliki tipe sebagai berikut (www.medicinenet.com) :
• Astrositoma
Tumor ini berawal dari sel glia jenis astrocytes yang pada orang dewasa sering berawal dari serebrum, sedangkan pada anak tumor ini didapatkan tumbuh dari batang otak, serebelum dan serebrum.
• Brain stem glioma
Tumor jenis ini sering didapati pada bagian bawah dari otak dan sering mengenai anak dan dewasa
• Ependyma
Tumor pertama kali tumbuh dari sel pada garis sentral dari spinal cord atau ventrikel. Tumor ini paling sering dijumpai pada anak dan remaja
• Oligodendroglioma
Tumor ini tumbuh dari substansi berlemak pada lapisan yang melindungi syaraf, biasanya timbul di serebrum. Tumor ini tumbuh lambat dan hampir tidak dijumpai adanya penyebaran ke sekitarnya. Biasanya menyerang pada usia dewasa.
Beberapa tipe tumor otak yang bukan berasal dari sel glia adalah :
• Medulloblastoma
• Meningioma
• Schwannoma.
• Craniopharyngioma
• Germ cell tumor
• Pineal region tumor

B. Etiologi
Penyebab secara pasti masih belum diketahui, namun banyak pakar dan riset (brain cancer research) yang menyebutkan beberapa faktor resiko terjadinya tumor otak yaitu (www.emedtv.com) :
• Laki laki
Umumnya tumor otak banyak menyerang pada kaum pria, kecuali meningioma yang banyak menyerang pada wanita
• Ras
Tumor ini banyak menyerang pada ras Caucasians dibandingkan pada ras yang lain
• Usia
Tumor otak banyak terdeteksi menyerang orang dengan usia 70 tahun atau lebih, namun ada juga tumor otak yang secara spesifik banyak terdapat pada anak kurang dari 8 tahun
• Riwayat keluarga
Penderita dengan riwayat kesehatan keluarga yang menderita tumor otak jenis glioma sering didapati menderita tumor jenis ini juga
• Dampak pemaparan rasiasi dan beberapa bahan kimia
Beberapa pemaparan radiasi dan bahan kimia meningkatkan resiko terjadinya tumor otak termasuk diantaranya :
a) Formaldehyde
b) Vinyl chloride
c) Acrylonitrile
• Pada saat ini sedang diselidiki adanya hubungan antara penggunaan telepon seluler dengan terjadinya tumor otak walaupun belum ada literatur pasti tentang hal itu, namun disarankan pada orang orang yang memiliki faktor faktor resiko diatas untuk lebih sering memeriksakan dirinya.

C. Tanda dan gejala
Di kalangan medis pada umumnya sudah dikenal trias gejala tumor otak yaitu nyeri kepala, muntah dan ditemukannya edema papil pada pemeriksaan fundus. Tetapi sebenarnya gejala klinis tumor otak sering tidak sejelas itu, apalagi pada fase dini. Tumor otak bisa memberikan gejala klinis beragam tergantung kepada lokasi dan ukurannya. Gejala itu bisa khas, tapi bisa pula kabur, sehingga bila kita tidak waspada bisa terkecoh dengan dugaan yang keliru.
Tumor otak bisa mengenai segala.usia, tapi umumnya pada usia dewasa muda atau pertengahan, jarang di bawah usia 10 tahun atau di atas 70 tahun. Sebagian ahli menyatakan insidens pada laki-laki lebih banyak dibanding wanita, tapi sebagian lagi
menyatakan tak ada perbedaan insidens antara pria dan wanita.
Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat edema otak dan tekanan intrakranial yang meningkat. Gejala spesifik terjadi akibat destruksi dan kompresi jaringan saraf, bisa berupa nyeri kepala, muntah, kejang, penurunan kesadaran, gangguan mental, gangguan visual dan sebagainya. Edema papil dan defisit neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut (cermin dunia kedokteran, 1992)

a) Nyeri Kepala (Headache)
Nyeri kepala biasanya terlokalisir, tapi bisa juga menyeluruh. Biasanya muncul pada pagi hari setelah bangun tidur dan berlangsung beberapa waktu, datang pergi (rekuren) dengan interval tak teratur beberapa menit sampai beberapa jam. Serangan semakin lama semakin sering dengan interval semakin pendek. Nyeri kepala ini bertambah hebat pada waktu penderita batuk, bersin atau mengejan (misalnya waktu buang air besar atau koitus). Nyeri kepaia juga bertambah berat waktu posisi berbaring, dan berkurang bila duduk. Penyebab nyeri kepala ini diduga akibat tarikan (traksi) pada pain sensitive structure seperti dura, pembuluh darah atau serabut saraf. Nyeri kepala merupakan gejala permulaan dari tumor otak yang berlokasi di daerah lobus oksipitalis.

b) Muntah
Lebih jarang dibanding dengan nyeri kepala. Muntah biasanya proyektil (menyemprot) tanpa didahului rasa mual, dan jarang terjadi tanpa disertai nyeri kepala.

c) Edema Papil
Keadaan ini bisa terlihat dengan pemeriksaan funduskopi menggunakan oftalmoskop. Gambarannya berupa kaburnya batas papil, warna papil berubah menjadi lebih kemerahan dan pucat, pembuluh darah melebar atau kadang-kadang tampak terputus putus. Untuk mengetahui gambaran edema papil seharusnya kita sudah mengetahui gambaran papil normal terlcbih dahulu. Penyebab edema papil ini masih diperdebatkan, tapi diduga akibat penekanan terhadap vena sentralis retinae. Biasanya terjadi bila tumor yang lokasi atau pembesarannya menekan jalan aliran likuor sehingga mengakibatkan bendungan dan terjadi hidrosefalus interim.

d) Kejang
Ini terjadi bila tumor berada di hemisfer serebri serta merangsang korteks motorik. Kejang yang sifatnya lokal sukar dibedakan dengan kejang akibat lesi otak lainnya, sedang kejang yang sifatnya umum/general sukar dibedakan dengan kejang karena epilepsi. Tapi bila kejang terjadi pertama kali pada usia dekade III dari kehidupan harus diwaspadai kemungkinan adanya tumor otak.






Beberapa ahli mengemukakan gejala klinis berdasarkan lokasi timbulnya tumor yaitu
a) Brain Stem Tumors (Midbrain, Pons, Medulla Oblongata)
Gejala paling banyak adalah muntah biasanya pada saat bangun tidur, ataxia (uncoordinated walk), kelemahan otot wajah pada satu sisi, dysphagia dan dysarthria, penurunan penglihatan, serta perubahan kepribadian.
b) Cerebellopontine Angle Tumors (Usually Acoustic Nerve Tumors)
Tinnitus dan vertigo.
c) Cerebral Hemisphere Tumors
Frontal Lobe Tumors
One-sided paralysis (hemiplegia), penurunan daya ingat, ketidakmampuan penilaian, dan perubahan status mental. Jika tumor mengenai lobus frontal bagian bawah terdapat loss of sense of smell (anosmia), dan swollen optic nerve (papilledema)
Parietal Lobe Tumors
Gannguan bicara (biasanya hemisfer kiri), loss of ability to write (agraphia) adalah gejala yang sering timbul. Spatial disorders seperti kesulitan dalam orientasi anggota tubuh dengan ruang sekkitarnya serta gangguan dalam mengenali anggota tubuh bisa terjadi.
Occipital Lobe Tumors
Blindness in one direction (hemianopsia)
Temporal Lobe Tumors
Tumor pada daerah ini seringkali bersifat silent sehingga sulit dikenali namun kadang terjadi language disorders (dysphasia).
d) Subcortical Tumors
One-sided paralysis (hemiplegia), jika tumor mengenai thalamus seringkali terjadi penurunan sensasi raba
e) Meningeal Brain Tumors
f) Metastatic Brain Tumors
Nyeri kepala, mual dan muntah
g) Midline Tumors (Craniopharyngioma, Optic Nerve Glioma, Tumors of the Thalamus and Sellar areas)
Papilledema, abnormal eye movement (nystagmus)
h) Posterior Fossa Tumors (Tumors of the Fourth Ventricle, Cerebellar Tumors)
Tremors, gangguan koordinasi dan bicara
i) Spinal Cord Tumors
Gejalanya tergantung pada lokasi tumor seperti tumor pada thoracic area menyebabkan "girdle pain" pada dada yang semakin terasa berat pada saat batuk atau bersin. Tumors di daerah cervical atau lumbar menimbulkan nyeri pada leher, lengan, punggung, tungkai, dan seringkali timbul penurunan kontrol terhadap saluran cerna dan kemih

2. Pathological pathways
3. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada tumor otak berbeda dengan tumor pada anggota tubuh yang lain, hal ini dikarenakan karakteristik organ otak yang unik serta mengingat prognosis yang buruk dari penyakit ini sehingga diperlukan terapi yang bertahap sehingga diperlukan multidisiplin profesional medis yang bekerja sama untuk memberikan penatalaksanaan yang paling manjur (first.national.and.evidence.based.guidelines.brain.cancer.released).


American Brain Tumor Asociation merumuskan tahapan penatalaksanaan tumor otak sebagai berikut :
a) SURGERY
 Biopsy (Surgical removal of a sample of tumor)
 Resection of a Tumor
 Stereotactic localization
 Laser microsurgery
 Ultrasonic aspiration
b) RADIATION THERAPY
c) CHEMOTHERAPY
d) STEROIDS
e) IMMUNOTHERAPY
f) ONCOGENES
4. Fokus pengkajian
• Biodata pasien
 Jenis kelamin
 Usia
 Ras
• Keluhan utama
Nyeri kepala / vertigo, mual muntah, kelemahan anggota gerak
• Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat terpapar radiasi dan bahan kimia
• Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan adanya anggota keluarga yang menderita tumor otak
• Pemeriksaan fisik
 Kepala : kelemahan otot wajah pada satu sisi, dysphagia,
 Mata : papiledema, nystagmus, penglihatan kabur, penurunan
lapang pandang, Blindness in one direction (hemianopsia)
 Saraf : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, penurunan/
kehilangan memori, afek tidak sesuai, afasia sensoris
motoris,
 Pendengaran : tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi
 Penciuman : anosmia
 Jantung : bradikardi
 Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea
 Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi, One-sided paralysis
(hemiplegia), gangguan keseimbangan, loss of ability
to write (agraphia), uncoordinated walk (ataxic gait)
 Neuromuskuler : tremor, penurunan sensasi raba, kekuatan otot
 Status mental : disorientasi, penurunan daya ingat
 Sistem integumen : turgor turun,

• Pemeriksaan penunjang
 CT or CAT
 MRI
 Skull x-ray
 RN (Radionuclide)
 LUMBAR PUNCTURE (Spinal Tap)
 ELECTROENCEPHALOGRAM (EEG)
 BIOPSY
 ANGIOGRAM OR ARTERIOGRAM
5. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Keperawatan :
1. Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit s/d muntah proyektil
2. Nyeri s/d spasme otot dan trauma jaringan sekunder akibat peningkatan TIK
3. Risiko tinggi cidera s/d disfungsi muskuler, penurunan respon protektif
4. Kerusakan memori s/d perubahan sistem syaraf pusat sekunder tu. otak
5. Syndroma perawatan diri
6. Kerusakan mobilitas fisik ; berjalan
7. Kerusakan komunikasi verbal
8. PK : hypoxia cerebral
9. PK : herniasi cerebral
10. PK : hydrocephalus
6. Nursing care plan
1. Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit s/s muntah proyektil
Tujuan : keseimbangan cairan dan elektrolit tetap normal
Rencana :
• Jelaskan kepada pasien atau keluarga pasien tentang pentingnya cairan
R/ tubuh manusia sebagian besar terdiri oleh air
• Berikan cairan / minum jika tidak ada kontraindikasi
R/ memberikan asupan saat muntah menyebabkan aspirasi bahkan obstruksi airway
• Kaji berat badan
Kehilangan berat badan 5% menandakan dehidrasi ringan, 8% menandakan dehidrasi sedang
• Kaji input dan output
R/ perubahan dalam kapasitas input / output menandakan adanya kekurangnan atau kelebihan
• Kolaburasi : infus
R/ profesionalisme lebih tepat
2. Nyeri s/d spasme otot dan trauma jaringan sekunder akibat peningkatan TIK
Tujuan : beradaptasi terhadap rasa nyeri

Tindakan :
• Jelaskan pada penderita atau keluarga penderita tentang penyebab nyeri dan sampai kapan nyeri akan dirasakan
R/ kesiapan menghadapi nyeri menimbulkan self opiat
• Beri posisi yang nyaman
R/ relaksasi menghambat respon nyeri ascendens
• Monitor tanda vital dan skala nyeri jika memungkinkan
R/ nyeri memicu aktifasi sistem simpatis dan parasimpatis
• Berikan kompres dimana pada area yang sakit
R/ vaskularisasi yang baik menghambat aktivasi reseptor akibat trauma
• Kolaborasi pemberian obat : analgetik, relaksan, prednison
R/profesionalisme lebih tepat
3. Risiko tinggi cidera s/d disfungsi muskuler, penurunan respon protektif
Tujuan : cidera tidak terjadi
Tindakan :
• Jelaskan akibat cidera dan penyebabnya
R/ cidera pada kepala memperparah peningkatan tekanan intra kranial
• Diskusikan dengan pasien atau keluarga tentang penggunaan pengaman tempat tidur, tali, alat bantu jalan, dll
R/ alat bantu merupakan benda asing dan mungkin bertentangan dengan value yang diharapkan pasien dan keluarganya
• Orientasikan penderita pada keadaan sekitarnya
R/ pengenalan lingkungan memungkinkan penderita mengingat kondisi di sekitarnya
• Anjurkan keluarga membantu memecahkan masalah pasien
R/ manusia adalah mahluk sosial
4. Kerusakan memori s/d perubahan sistem syaraf pusat sekunder tu. Otak
Tujuan : terjadi peningkatan memori
Tindakan :
• Bina hubungan yang baik dengan klien
R/ perbaikan status memori harus didasari oleh keinginan dari penderita sendiri
• Berikan selalu informasi yang akurat dan berulang
R/ stimulus terhadap sel neuron harus benar benar - kuat agar bisa diingat
• Ajarkan metode peningkatan ketrampilan memori mis : menulis, asosiasi kata
R/ pencapaian status memori dibantu dengan pelaksanaan metode mengingat
• Anjurkan menggunakan alat bantu
R/ stimulus terhadap sel neuron harus benar benar - kuat agar bisa diingat
Syndroma perawatan diri
Tujuan : perawatan diri terpenuhi


Tindakan :
• Jelaskan pentingnya perawatan diri
R/ infeksi nosokomial dapat berasal dari tubuh penderita sendiri
• Kaji kemampuan untuk berpartisipasi
R/ memberikan bantuan dapat total, partial, atau penderita mandiri
• Berikan bantuan perawatan diri
R/ kelemahan dalam koordinasi anggota gerak memerlukan waktu yang lama untuk pulih
• Anjurkan keluarga berparisipasi
R/ harga diri penderita berperan penting dalam peningkatan motivasi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri
5. Daftar pustaka
www.abta.com
www.medicinenet.com
www.pubmed.com
Cermin Dunia Kedokteran PDF search, 1992
Carpenito, lynda juall. Hanbook of nursing diagnosis edisi 8. 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar